Thursday, October 23, 2008

Dibawah Lindungan Kaabah (Bhg.2)

Pada suatu malam, sedang ia duduk seorang dirinya di atas sutuh, pada sebuah bangku yang bertikar daun kurma berjalin memandang kepada bintang-bintang yang memancarkan cahayanya yang indah di halaman langit, saya beranikan hati saya dan saya dekati dia. Maksud saya kalau dapat hendak membahagi kedukaan itu atau merentang-rentang barang sedikit kedukaan hatinya.

" Saudara Hamid!" –kata saya.

"Oh saudara, duduklah kemari!" – katanya pula sambil memperbaiki duduknya dan mempersilakan saya.

Setelah sama-sama duduk, ia pun menanyakan keramaian orang haji dan kami pun memperkatakan keadaan pada tahun ini. Tiap-tiap perkataan terhadap kepada tanahair, pembicaraan diputarnya kepada yang lain, serupa ia tak suka. Maka akhirnya hati saya tiada tahan lagi, saya pun berkata:

" Sudah lama saya perhatikan hal ehwal kamu, saudara, rupanya engkau dalam dukacita yang amat sangat. Agaknya engkau kurang percaya kepada saya, sehingga engkau tak mahu menyatakan kedukaan itu dengan saya. Sebagai seorang kawan, yang wajib berat sama memikul dan ringan sama menjinjing apa lagi jauh dari tanahair, sewajibnyalah saya engkau beritahu, apakah yang menyusahkan hati engkau sekarang, sehingga banyak perubahanmu daripada yang biasa?"

Ia memandang kepada saya dengan tenang.

" Katakanlah kepada saya, wahai sahabat!" –ujar saya pula.

" Saya akan menolong engkau sekadar tenaga yang ada pada saya.Kerana meski pun kita belum lama bergaul, saya telah tahu bahawa engkau adalah seorang yang budiman, saya tidak akan mensiakan kepercayaan engkau kepada diri saya."

" Ini satu rahsia tuan!" – katanya.

" Saya akan pikul rahsia itu jika engkau percayakan kepada saya dan saya akan masukkan ke dalam perbendaharaan hati saya dan kemudian saya kunci pintunya erat-erat. Kunci itu akan saya lemparkan jauh-jauh sehingga seorang pun tak dapat mengambilnya kedalam lagi.

Mendengar perkataan saya itu mukanya kembali tenang dan ia pun berkata:" Jika telah demikian tuan berjanji, tentu tuan tidak akan mensiakan janji itu dan saya telah percaya penuh kepada tuan, kerana kebaikan budi tuan dalam pergaulan kita selama ini. Saya akan menerangkan kepada tuan sebab-sebab saya bersedih hati dan akan saya paparkan satu-persatu, sebagaimana berkata-kata dengan hati saya sendiri. Memang, saya harap tuan simpan citra diri saya selama saya hidup, tetapi jika saya lebih dahulu meninggal daripada tuan, sapa tahu ajal di dalam tangan Allah S.W.T,. Saya izinkan tuan menyusun hikayat ini baik-baik, mudah-mudahan ada orang yang akan suka meratap memikirkan kemelaratan nasib saya, meskipun mereka tak tahu siapa saya. Moga-moga air matanya akan menjadi hujan yang dingin dan memberi rahmat kepada saya ditanah perkuburan."

Air mata saya terpercik mendengarkan perkataan itu.

Ia bermenung kira-kira dua atau tiga minit; di antara gemuruh suara manusia yang hampir sunyi di dalam Masjidil Haram itu, di antara doa-doa beribu-ribu makhluk yang sedang berangkat ke hadrat Tuhan sahabatku itu mengumpulkan ingatannya. Awan gelap yang menutup keningnya hilanglah dari sedikit ke sedikit; setelah itu ia menarik nafas panjang, seakan-akan mengumpulkan ingatan yang bercerai-cerai dan ia pun memulai perkataannya.

ANAK YANG KEMATIAN AYAH

Masa saya masih berusia empat tahun, ayah saya telah meninggal, ia telah meninggalkan saya sebelum saya kenal siapa dia dan betapa rupanya, hanya di dinding masih saya dapati gambarnya, gambar semasa ia masih muda, gagah dan manis.

Ia telah meninggalkan saya dan ibu di dalam keadaan yang sangat melarat. Rumah tempat kami tinggal hanya sebuah rumah kecil yang telah lama, yang lebih dikenal kalu disebut gobok atau dangau. Kemiskinan kami telah menjadikan ibu putus harapan memandang kehidupan dan pergaulan dunia ini, kerana tali tempat bergantung sudah putus dan tanah tempat berpijak sudah runtuh. Hanyalah saya yang tinggal, jerat semata, tempat dia menggantungkan pengharapan untuk zaman yang akan datang, zaman yang masih gelap.

Meskipun pada masa itu ibu masih muda dan ada juga dua tiga orang dari kalangan saudagar-saudagar atau orang-orang berpangkat yang memintanya menjadi isteri, tetapi semuanya telah ditolaknya dengan perasaan yang sangat terharu. Hatinya belum lupa kepada almarhum ayah, semangatnya boleh dikatakan telah mengikutinya ke kuburan.

Pada waktu malam, ketika akan tidur, kerap kali ibu menceritakan kebaikan ayah semasa ia hidup; ia seorang terpandang dalam pergaulan dan amat besar cita-citanya jika saya besar, akan menyerahkan saya masuk sekolah supaya saya menjadi orang yang terpelajar. Masa itu daun sedang rimbun, bunga sedang kembang dan buah sedang lebat, orang pun datanglah berduyun-duyun menghampirkan diri, ini menghampirkan diri, ini mengatakan mamak, itu mendakwa bersaudara, berkarib famili, rumah-tangga sentiasa dapat kunjungan dari kiri dan kanan. Tetapi setelah perniagaan jatuh dan kemelaratan menjadi ganti segala kesenangan itu, tersisihlah kedua laki-isteri itu dari pergaulan, tersisih dan renggang dari sedikit ke sedikit. Oleh kerana malu ayah pindah ke Kota Padang, tinggal dalam rumah kecil yang kami diami itu, supaya namanya hilang sama sekali dari kalangan kaum kerabat itu.

Ibu pun menunjukkan kepada saya beberapa doa dan bacaan, yang menjadi wirid daripada almarhum ayah semasa hidup, menghamparkan penghargaan yang besar-besar kepada Tuhan seru sekalian alam, memohonkan belas kasihanNya.

Kerana di dalam umur yang semuda itu ia telah di timpa sengsara yang tiada keputusan, tidaklah sempat saya meniru meneladani teman sama anak-anak. Waktu teman-teman bersukaria bersenda gurau, melepaskan hati yang masih merdeka, saya hanya duduk dalam rumah dekat ibu, mengerjakakan pekerjaan yang dapat saya tolong, Kadang-kadang ada juga disuruh saya bermain-main, tetapi hati saya tiada dapat bergembira seperti teman-teman itu, tetapi kegembiraan bukanlah saduran dari luar, tetapi terbawa oleh sebab-sebab yang boleh mendatangkan gembira itu. Apa lagi kalau saya ingat, bagaimana ia kerap kali menyembunyikan airmata dekat saya, sehingga saya tak sanggup menjauhkan diri daripadanya.

Setelah badan saya agak besar, saya lihat banyak anak-anak yang sebaya saya berjaja kuih; maka saya mintalah kepadanya supaya dia sudi pula membuat kuih-kuih itu, saya sanggup menjualkannya dari lorong ke lorong, dari satu beranda rumah orang ke beranda yang lain, mudah-mudahan dapat meringankan agak sedikit tanggungan yang berat itu. Permintaan itu terpaksa dikabulkannya, sehingga saya akhirnya telah menjadi seorang anak penjual kuih yang terkenal.

Hatinya kelihatan duka memikirkan nasib saya; anak-anak yang lain waktu pagi masuk bangku sekolah, saya sendiri tidak. Untuk penjualan kuih-kuih itu hanya cukup untuk makan sehari-hari, orang lain pun tak ada tempat meminta Bantu, sakit senang adalah tanggungan sendiri.

Umur saya telah masuk enam tahun, setahun lagi saya mesti menduduki bangku sekolah, walaupun sekolah yang semurah-murahnya, sekolah desa, misalnya, tetapi yang akan menolong dan membantu tak ada sama sekali, tetapi ibu kelihatan tidak putus harapan, ia berjanji akan berusaha. Supaya kelak saya menduduki bangku sekolah, membayarkan cita-cita almarhum suaminya yang sangat besar angan-angannya, supaya saya kelak menjadi orang yang berguna dalam pergaulan hidup.

Masa setahun lagi ditunggu dengan sabar.

Bersambung....

* Penulis : Haji Abdul Malik Karim Abdullah (HAMKA)
* Tajuk : Dipetik dari buku Dibawah Lindungan Kaabah.
* Cetakan : Pustaka Antara

No comments: